Anastesi Regional dalam Ortopedi

Anestesi regional dalam ortopedi diperlukan sebagai bentuk tindakan yang dilakukan agar tidak memberikan dampak rasa sakit pada pasien saat dilakukan pembedahan. Anestesi regional dalam ortopedi dilakukan dengan harapan bahwa pasien dapat seminimal mungkin merasakan sensasi nyeri saat dilakukan pembedahan. Anastesi regional dalam ortopedi ini pada umumnya menggunakan teknik dan obat yang sama seperti pada anastesi regional pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah daerah yang dilakukan anastesi regional dalam ortopedi.


Gunting operasi

Klem operasi

Anastesi Regional dalam Ortopedi Teknik Reposisi Tertutup

Setelah letak dan posisi patah tulang dipastikan, buat benjolan dengan anastesi regional dalam ortopedi di dekat ujung patah tulang. Melalui benjolan tersebut ditusukkan jarum panjang ke dalam hematom di antara patahan tulang; bila pada aspirasi didapatkan darah tua, posisi jarum sudah tepat, selanjutnya suntikkan anastesi regional dalam ortopedi, misalnya lidokain 1,5% tanpa epinefrin.
Pada fraktur Colles, sebelumnya dilakukan infiltrasi ke sekitar prosesus stiloideus ulna, setelah itu baru dikerjakan cara di atas dari sisi ekstensor lengan. Suntikkan 15-20 ml anastesi lokal. Untuk fraktur pott diperlukan 10-20 ml anastesi regional dalam ortopedi, sedangkan untuk fraktur femur diperlukan lebih dari 30 ml. Anastesi regional dalam ortopedi teknik reposisi tertutup merupakan teknik yang paling sesuai untuk fraktur yang baru, terutama fraktur metakarpal atau metatarsal. Hasilnya akan lebih baik bila pada tiap 20 ml anastesi lokal dicampur dengan 1000 U hialuronidase. Sehingga teknik ini tidak menimbulkan anastesi sempurna.

Anastesi Regional dalam Ortopedi Teknik Reposisi Intravaskuler

Anastesi regional dalam ortopedi teknik reposisi intravaskuler ialah teknik penyuntikan anastesi lokal ke dalam vena atau arteri sebuah ekstremitas untuk memperolah anastesi dan kelumpuhan otot ekstremitas tersebut guna berbagai tindakan misalnya reposisi, eksplorasi, debridement atau amputasi.

1. Anastesi Regional dalam Ortopedi Teknik Reposisi Intravaskuler Cara Intravena

Sebuah jarum butterfly/wing atau kateter (abocath) dipasang pada salah satu vena di punggung tangan/kaki; lalu ekstremitas itu diangkat untuk mengurangi jumlah darah di dalamnya. Bila ekstremitas itu tidak terlalu nyeri dapat dipasang pembalut tekan/elastik sepanjang ekstremitas tersebut dari distal ke proksimal. Kemudian dipasang cuff sfigmomanometer di pangkal ekstremitas sehingga aliran darah arteri terhenti; dengan cara ini bagian distal masih mendapat perdarahan dari sirkulasi kolateral dalam tulang. Lalu pembalut tekan dilepas (cuff tetap dipasang), ekstremitas itu di turunkan kembali. Setelah itu suntikan sejumlah anastesi lokal melalui jarum/kateter yang terpasang, umumnya untuk lengan diperlukan 40 ml lidokain 0,5% atau 20 ml lidokain 1% untuk tungkai 1,5-2 kali jumlah tersebut. Segera setelah penyuntikkan penderita akan rasakan sensasi panas dan ditusuk-tusuk (parestesi), lalu timbul kelumpuhan otot dan akhirnya timbul anastesi. Pada akhir tindakan cuff dilepaskan secara perlahan-lahan dan anastesi/kelumpuhan otot akan hilang dalam beberapa menit. Reaksi toksik anastesi regional dalam ortopedi teknik reposisi intravaskuler cara intravena ini jarang timbul. Namun yang sering terjadi adalah pada saat melepas cuff timbul rasa mengantuk, bradikardi, hipotensi, dan disritmi.


2. Anastesi Regional dalam Ortopedi Teknik Reposisi Intravaskuler Cara Intra-arteri

Sebuah cuff spigmomanometer dipasang di lengan atas. Sebuah semprit terisi 20 ml lidokain0,5% dengan jarum halus dan bevel pendek di tusuk ke arteri brakhialis fosa kubiti, cuff lalu di pompa sampai denyut nadi distal tak teraba. Kemudian lidokain sedikit demi sedikit disuntikkan intra-arteri sampai efek anastesi dan kelumpuhan otot yang diinginkan tercapai; pada dewasa umumnya tercapai setelah 14-15 ml. Bila penyuntikkan tidak tepat dalam arteri dapat terjadi spasme vaskuler sementara, komplikasi lain belum pernah terjadi. Anastesi regional dalam ortopedi dengan cara ini dapat menjadi salah satu pilihan anestesi yang dilakukan.


Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  • Buku Kedaruratan Medik




Terima kasih untuk Like/comment FB :