Gunting Diseksi

Dalam pembedahan sering diperlukan alat medis atau peralatan pembantu yang harus masuk ke daerah sekitar lapangan pembedahan. Alat-alat ini harus mengalami desinfeksi terlebih dahulu sebelum dibawa ke kawasan pembedahan. Alat yang akan langsung dipakai untuk pembedahan dan bersinggungan dengan lapangan pembedahan harus disterilkan dengan cara yang telah dijelaskan di atas. Alat-alat bedah ini harus tetap berada dalam daerah ruang pembedahan agar tidak terjadi infeksi silang, dan pada setiap akhir dari pembedahan, harus selalu didesinfeksi atau disterilkan segera setelah dipakai dan sesuai dengan pemakaiannya.

Gunting diseksi merupakan salah satu alat yang digunakan dalam bedah minor. Gunting diseksi terbuat dari bahan logam stainless steel sehingga tidak mudah berkarat. Gunting diseksi mempunyai fungsi untuk membuka jaringan, membebaskan tumor kecil dari jaringan sekitarnya, untuk esksplorasi dan merapikan luka. Gunting diseksi ini terdapat dua jenis yaitu, lurus dan bengkok. Ujungnya biasanya runcing. Terdapat dua tipe yang sering digunakan yaitu tipe Moyo dan tipe Metzenbaum. Gunting diseksi tipe moyo bercirikan mata guntingnya yang lurus atau melengkung. Sedangkan tipe Metzenbaum memiliki ukuran yang lebih panjang dan lebih banyak pemakaiannya dengan lengkungan yang halus pada ujungnya.


Gunting diseksi tajam - tajam lurus

Cara Menggunakan Gunting Diseksi dalam Melakukan Trakeotomi

Trakeotomi merupakan tindakan membuat jalan napas baru dengan membuat lubang (stoma) pada trakea. Menurut urgensinya trakeotomi dibagi atas :
  • Emergency tracheostomy. Dilakukan pada keadaan darurat, biasanya di daerah glotis (trakeostomi tinggi); sebaiknya segera diganti dengan trakeostomi rendah.
  • Olderly tracheostomy. Merupakan tindakan berencana, dilakukan pada cincin trakea III atau di bawahnya (trakeostomi rendah).

Teknik dalam melakukan trakeotomi dengan menggunakan bantuan gunting diseksi meliputi:
  1. Premedikasi dengan atropin sulfat 1 mg i.m.
  2. Penderita dalam posisi hiperekstensi pada leher, bila perlu tengkuk di ganjal dengan bantal atau kantong pasir.
  3. Antisepsis daerah tindakan dan berikan anestesi lokal (infiltrasi) dengan prokain 1% mulai dari kartilago tiroid sampai daerah fosa suprasternal, dapat juga dilakukan anestesi umum, tetapi sebelumnya trakea harus ditandai dengan pipa endotrakeal atau bronkoskop.
  4. Insisi dibuat mulai dari bagian bawah kartilago krikoid sampai fosa suprasternal, tepat digaris tengah; cara ini lebih aman daripada insisi horisontal meskipun kosmetik lebih buruk.
  5. Jaringan subkutis disisihkan, sedapat mungkin jaringan subkutis di sisihkan, sedapat mungkin jaringan mememotong pembuluh darah; fasia otot dipotong dengan menggunakan gunting diseksi di garis tengah.
  6. Setelah trakea tampak, ismu tiroid di sisihkan (bila perlu dipisahkan) sampai cincin trakea I-V terbuka; perdarahan dirawat.
  7. Dapat disuntikan beberapa tetes kokain 5% melalui interkartilago I untuk mencegah iritasi pada pemasangan kanul.
  8. Trakea  di buka digaris tengah, sebaiknya dibawah cincin trakea III, lalu dibuat lubang atau flap yang sesuai dengan kanul yang akan dipasang.
  9. Bila ada, benda asing dapat dicari dan dikeluarkan melalui stoma dengan bantuan spekulum hidung dan pinset;bila ternyaya benda asing itu terletak distal stoma dan tak dapat di ambil,dorong ke salah satu bronkus agar jalan napas dapat terbuka sebagian dan segera kirim ke tempat yang mempunyai fasilitas bronkoskopi.
  10. Pasca tindakan tidak perlu dijahit; bila perlu dapat dibuat jahitan longgar di kedua ujung insisi.

Pada saat melakukan trakeotomi dengan gunting diseksi, pilihlah gunting diseksi yang berukuran kecil dan tajam. Serta dalam melakukan tindakan perlu memperhatikan insisi yang terlampau pendek mempersulit pencarian trakea dan memudahkan terjadinya emfisema subkutis dan kanul sedapat mungkin sesuai dengan diameter lumen trakea.


Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber :
  • Buku Kedaruratan Medik 
  • hjjuay.blogspot.com




Terima kasih untuk Like/comment FB :