Jarum dan Benang Bedah Minor

Jarum dan benang bedah minor merupakan alat yang secara tidak langsung berkaitan dengan tindakan bedah minor. Bisa di bilang jarum dan benang bedah minor merupakan alat pelengkap dari tindakan bedah minor.  Terdapat beberapa jenis jarum diantaranya adalah : 
  1. Jarum traumatis : jarum yang mempunyai ‘mata’ untuk memasukkan benang di bagian ujung tumpulnya sehingga benangnya bisa diganti. Pada bagian yang bermata ukurannya lebih besar dari bagian ujungyang tajam.
  2. Jarum atraumatis : jarum yang tidak memiliki mata sehingga ujung jarumnya langsung dihubungkan dengan benang dan memiliki ukuran penampang yang sama.
  3. Jarum cutting : jarum yang penampangnya berbentuk segitiga atau pipih dan tajam. Dipakai untuk menjahit kulit dan tendon.
  4. Jarun non-cutting (tappered) : jarum yang penampangnya bulat dan ujungnya saja yang tajam. Dipakai untuk menjahit jaringan yang lunak.

Sedangkan jenis-jenis benang, dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Benang yang dapat diserap (absorbable) digunakan untuk menjahit jaringan di bawah kulit. Contoh : catgut : terbuat dari usus halus dan kucing, benang sintesis : multifilamen (asam poliglikoliat dan asampoliglaktik) dan monofilamen (polidiaksone).
  • Benang yang tidak diserap (non aborbable) digunakan untuk menjahit kulit contohnya seperti sutera, poliester (dacron), polipropilene (prolene) dan kawat baja.


Jarum dan benang bedah minor

Jarum dan Benang Bedah Minor yang Sering Digunakan

Spesifikasi jarum dan benang bedah minor yang sering digunakan perlu diketahui agar kita dapat menyesuaikan dengan tindakan pembedahan yang akan dilakukan. Ada dua sistem dalam mengatur penebalan benang, yakni dengan sistem metrik dan sistem tradisional. Pada sistem tradisional penomoran yang digunakan kurang rasional namun banyak yang menggunakannya. Ketebalan benang disebutkan dengan menggunakan nilai nol misalnya 3/0, 4/0, 6/0 dan seterusnya. Paling besar nilainya, maka benang tersebut memiliki ketebalan yang semakin kecil. 6/0 merupakan nomor dengan diameter paling halus yang tebalnya seperti rambut, digunakan pada wajah dan anak-anak. 3/0 adalah ukuran yang paling tebal yang biasa digunakan pada sebagian besar bedah minor. Khususnya untuk kulit yang keras (kulit bahu). 4/0 merupakan nilai pertengahan yang juga sering digunakan. Sedangkan pada sistem metrik penomoran sesuai dengan diameter benang dalam per-sepuluh milimeter. Misalnya, benang dengan ukuran 2 berarti memiliki diameter 0.2 mm. 

Jarum dan benang bedah minor yang digunakan juga harus mengacu pada teknik jahitan yang akan dipakai. Penggunaan benang monofilamen prolene atau Ethilon 1,5 metrik (4/0) biasanya digunakan untuk jahitan interuptus pada semua bagian. Monofilamen prolene atau ethilon 2 metrik (3/0) untuk jahitan subkutikuler non-absorbable. Juga dapat digunakan untuk jahitan interuptus pada kulit yang keras misalnya pada bahu. Vicryl 2 metrik (3/0) digunakan pada jahitan subkutikuler yang absorbable dan jahitan dalam hemostasis. Vicryl 1,5 metrik (4/0) digunakan untuk jahitan subkutikuler jaringan halus atau jahitan dalam. Prolene atau Ethilon 0,7 (6/0) untuk jahitan halus pada muka dan pada anak-anak.

Jarum yang biasanya digunakan dalam melakukan bedah minor adalah jarum dengan jenis atraumatik yang terdiri atas sebuah lubang pada ujungnya yang merupakan tempat insersi benang. Benang dapat mengikuti jalur jarum tanpa menimbulkan kerusakan jaringan (trauma). Pada jarum dengan model lama memiliki mata dan loop pada benangnya sehingga dapat menimbulkan trauma. Jarum memiliki bagian dasar yang sama, meskipun bentuknya beragam. Setiap bagian memiliki ujung, yakni bagian body dan bagian lubang tempat insersi benang. Sebagian besar jarum berbentuk kurva dengan ukuran ¼, 5/8, ½ dan 3/8 lingkaran. Hal ini menyebabkan needle memiliki range untuk bertemu dengan jahitan lainnya yang dibutuhkan. Ada juga bentuk jarum yang lurus namun jarang digunakan pada bedah minor. Jarum yang berbentuk setengah lingkaran datar digunakan untuk memudahkan penggunaannya dengan needle holder. Itulah jarum dan benang yang sering digunakan pada tindakan bedah minor.



Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber : 
  • kedokteran.unsoed.ac.id




Terima kasih untuk Like/comment FB :