Benang Jahit Luka

Benang jahit luka terdiri dari beberpa jebis yang dibedakan berdasarkan bahan pembuatnya, sifatnya, ukuran benang jahit luka tersebut dan lain-lain. Benang jahit luka yang dibedakan berdasarkan sifatnya terdiri dari benang jahit luka yang dapat diserap dan benang jahit yang tak dapat diserap. Kedua benang tersebut dapat terbuat dari bahan alami maupun dari bahan buatan atau sintetis. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentunya pemilihan penggunaan benang jahit luka yang dapat diserap maupun yang tak dapat diserap disesuaikan dengan tujuan dari penjahitan luka yang dilakukan.


Informasi harga dan pembelian BENANG JAHIT LUKA klik disini

benang jahit luka
Benang jahit luka catgut chromic + jarum

Benang chromic


Benang Jahit Luka Terbuka

Benag jahit luka terbuka dapat menggunakan benang yang dapat diserap dan benang yang tak dapat di serap. Penggunaan jenis benang ini disesuaikan dengan tujuan penjahitan yag akan dilakukan. Benang jahit luka yang dapat diserap terbuat dari bahan alami dan buatan atau sintetis. Benang jahit luka yang dapat diserap dan terbuat dari bahan alami contohnya ialah benang catgut. Benang catgut ini sering digunakan untuk melakukan penjahitan pada bagian robekan perineum. Benang catgut ini termasuk ke dalam benang monofilamen yang terbuat dari usus sapi atau usus domba. Benang catgut itu sendiri terbagi lagi menjadi benang plain catgut dan chromic catgut. Perbedaan antara benang plain catgut dan chromic catgut terletak pada lamanya penyerapan benang tersebut. Pada benang plain catgut dapat diserap dengan sempurna dalam kurun waktu 7 sampai dengan 10 hari. Sedangkan pada benang chromic catgut dapat diserap dengan sempurna dalam kurun waktu selama kurang lebih 28 hari. Kedua benang ini dapat menghasilkan reaksi jaringan pada daerah yang dilakukan penjahitan.

Benang jahit luka yang dapat diserap dan terbuat dari bahan buatan atau sintetis contohnya ialah benang polygactin dan polyclycalic acid. Benang polygactin sering kita kenal sebagai benang vicryl, dan benang polyclycalic acid sering kita kenal dengan benang dexon. Kedua benang tersebut merupakan benang multifilamen. Benang ini memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan dengan benang catgut. Namun sama-sama menimbulkan reaksi jaringan. Benang ini pada umumnya digunakan untuk menjahit bagian luar kulit dengan teknik subkutikuler yang tidak perlu diangkat jahitannya. Selain untuk teknik jahitan tersebut, benang ini juga dapat digunakan untuk jahitan penutupan luka dan untuk mengikat pembuluh darah.

Benang jahit luka yang tak dapat diserap juga dapat terbuat dari bahan alami maupun bahan buatan atau sintetis. Benang jahit luka yang tak dapat diserap dan terbuat dari bahan alami contohnya ialah black silk. Black silk walaupun tergolong ke dalam benang yang tak dapat diserap, namun benang ini dapat menimbulkan reaksi jaringan sehingga dapat menghasilkan luka. Sehingga lebih baik penggunaan benang ini dihindari karena masih terdapat jenis benang yang lain yang memberikan hasil lebih baik dibandingkan benang ini.

Benang jahit luka yang tak dapat diserap dan terbuat dari bahan buatan atau sintetis contohnya ialah prolene dan ethilon. Benang ini termasuk ke dalam benang monofilamen. Benang ini memiliki filamen tunggal. Benang ini merupakan benang yang halus dan lentur serta menghasilkan sedikit reaksi jaringan. Namun benang ini memiliki kelemahan yaitu sulit diikat sehingga apabila melakukan penjahitan sering kali setelah penjahitan jahitan tersebut terbuka. Tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan menggunakan teknik khusus seperti menggulung benang pada saat jahitan dilakukan atau mnegikat benang dengan menambah lilitan.




Oleh : Bidan Rina
Sumber :
  • c11104066.blogspot.com




Terima kasih untuk Like/comment FB :